Dalam suatu tausiyah yang diadakan dalam masjid, seorang ustad bercerita tentang hikayah kakak beradik. Ceritanya sebagai berikut:
Ada suatu kisah tentang kakak beradik yang hidup di suatu dusun. Kakak beradik ini adalah yatim piatu. Dimana kakak beradik ini sangat giat dalam berusaha dan juga sangat giat dalam beribadah. Kakak beradik ini tinggal di suatu rumah yang sangat sangat sederhana peninggalan orang tuanya. Hampir tiga kali seminggu kakak beradik ini mengaji di salah satu surau yang diajarkan oleh seorang ustad. Jarak antara surau dan tempat tinggal mereka adalah kurang lebih 10 km. Mereka melakukan pergi mengaji ini dengan jalan kaki. Dan mereka itupun tidak pernah mengeluh atas keadaan yang mereka alami.
Hingga pada suatu hari sang kakak ini berdoa kepada Alloh SWT, “Yaa Alloh, berilah kemudahan rizki dan keleluasaan rizki pada kami. Sehingga kami dapat mempunyai kendaraan untuk dapat pergi mengaji. Amin” Sementara sang adik hanya berdoa apa yang tertulis dalam secarik kertas yang ada dalam genggamannya. Dan subhanalloh, apa yang menjadi keinginan kakak tersebut dikabulkan oleh Alloh SWT. Mereka pun berdua mempunyai kendaraan yakni sepeda motor. Dengan demikian mereka ini pun tidak mendapat kesulitan lagi bilamana mereka harus pergi mengaji. Hal ini dikarenakan tidak berjalan kaki lagi sejauh 10 km.
Seiring dengan waktu yang berjalan, apa yang menjadi keinginan kakaknya selalu terkabul. Mereka mempunyai kendaraan mobil. Dan suatu saat, sang kakak berkata pada adiknya, “Wahai adikku, umurku sudah pada waktunya dimana aku berkeinginan untuk berkeluarga. Menurut kamu bagaimana?” Maka sang adik pun menjawab “Silahkan saja, kalau itu sudah menjadi pemikiran dan keinginan kakak”. Maka sang kakak pun giat berdoa untuk segera mendapatkan istri yang baik, cantik dan sholeha. Sementara sang adik tetap berdoa seperti apa yang tercatat dalam kertasnya.
Alhamdulillah, sang kakak pun berumah tangga dengan mendapatkan istri yang baik, cantik dan sholeha. Waktu pun terus berjalan, sang kakak sudah mempunyai rumah sendiri, dan sibuk mengurusi usaha mereka yang kian maju. Hal ini menyebabkan sang kakak agak jarang datang ke tempat mengaji. Lain hal nya dengan sang adik dimana ia masih tetap seperti dulu yang rajin usaha dan dan rajin pula mengaji di surau tersebut. Sang adik tetap tinggal di tempat rumah warisan orang tuanya.
Suatu saat sang kakak pernah berkata pada adiknya, “Adik ku, kalau aku boleh tanya kenapa masih hidup seperti ini? Dari jaman kita masih tidak punya hingga sekarang aku sudah berkecukupan, engkau masih tidak berubah. Apa yang menyebabkan kamu seperti ini?” Maka dijawablah oleh sang adik,”Aahh… tidak ada apa-apa, kak. Aku mungkin lebih suka seperti ini apa adanya. Sehingga aku bisa berdekat diri terus kepada Alloh.”
Hingga pada suatu saat, Alloh berkenan memanggil adiknya terlebih dahulu. Sang kakak pun bersedih karena ia sangat menyayangi adiknya tersebut. Saat ia sedang bebenah (bersih-bersih) rumah orang tuanya dulu sepeninggalan adiknya, sang kakak tengah masuk ke kamar sholat dimana ruangan tersebut biasa adiknya melakukan sholat. Ia pun melipat sajadah bekas sholat adiknya, dan saat akan melipat ia mendapati secarik kertas yang biasa dibawa oleh adiknya untuk berdoa. Dengan tangan gemetar, perasaan yang menyesak di dada serta isak yang tersendu-sendu, dibacalah kertas tersebut, “Wahai Alloh yang Maha Agung, Engkau yang Maha Kuasa, Engkau yang Maha Pengampun, Engkau yang Maha Penyantun, Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang. terima kasih atas semua rizki, rahmah dan barakah Mu yang Engkau telah berikan kepada kami. Yaa Alloh yang Maha Diraja nan Maha Mendengar, hamba mohon kabulkanlah apa yang menjadi permintaan kakak hamba dan jangan pula Kau tunda atas pemintaan kakak hamba tersebut. Robbana taqobbal minna innaka samiun dua wal hamdulillahi robbil alamiin. Amin”. Sang kakak tersadar bahwa apa yang selama adiknya kerjakan tak lain adalah untuk dirinya. Apa yang ia raih selama ini adalah berkat doa adiknya yang tiada henti.
Ma’rifat:
Terkadang kita suka menyepelekan orang lain, terkadang pula kita suka mengabaikan orang lain. Baik yang ada di lingkungan rumah maupun yang tidak, baik yang masih saudara kandung maupun yang tidak. Bisa jadi kita menjadi sukses, menjadi orang terkenal, menjadi orang hebat, itu semua karena doa-doa yang ada di sekeliling kita. Mereka mungkin orang tua kita, mungkin kakak kita, mungkin adik kita, mungkin saudara jauh kita, mungkin pembantu kita, mungkin tetangga kita, yang begitu ikhlasnya mendoakan kita tanpa pamrih. Mudah-mudahan cerita di atas menjadikan pelajaran bagi kita untuk care, pay attention sekecil apapun kepada mereka ini.
Sebaiknya kita pun berdoa untuk mereka dengan doa, “Yaa Alloh, Engkau yang Maha Pengasih lagi Penyayang, Engkau yang Maha Adil, Engkau yang Maha Mendengar, limpahkanlah rahmah, barakah dan inayah Mu kepada mereka. Ampunilah dosa mereka dan tunaikan hajat mereka. Engkau yang Maha Penyantun, kabulkan doa hamba Mu ini. Amin yaa robbal alaamiina”.
No comments:
Post a Comment